Tak Boleh Ada Rakyat Ditolak RS dan Pekerja Tidak Terlindungi BPJS

Orang Miskin Dilarang SakitBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai berlaku efektif, tepat 1 Januari 2014. Presiden tidak ingin mendengar ada pekerja yang tidak terlindungi, atau rakyat kurang mampu ditolak oleh rumah sakit dan tidak bisa berobat karena alasan biaya.

“Karena BPJS Kesehatan salah satunya adalah untuk memberikan perlindungan kesehatan pada rakyat miskin,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan BPJS dan meluncurkan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/12) pagi.

Melalui BPJS, rakyat miskin harus dapat berobat dan dirawat secara gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit. “Sekali lagi saya tekankan, rakyat miskin gratis berobat dan dijamin oleh BPJS,” tegas Presiden SBY.

Saat diberlakukan besok, pada tahap awal akan diberikan pelayanan kesehatan kepada 121 juta peserta atau setara dengan 48 persen populasi Indonesia. “Ini merupakan lompatan besar yang dilakukan negara kita sejak Indonesia merdeka. Dengan cakupan pelayanan sebesar itu, program ini tidak akan tertandingi oleh lembaga asuransi manapun,” SBY menjelaskan.

Pada tahap kedua, paling lambat 1 Januari 2019, seluruh rakyat Indonesia akan menjadi peserta BPJS Kesehatan, tambahnya.

BPJS Kesehatan memberikan jaminan kesehatan yang layak bagi pesertanya berdasarkan prinsip kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, dan portabilitas. Kepesertaannya bersifat wajib serta dana amanat. “BPJS Kesehatan memiliki tingkat pelayanan yang lebih maju, lebih profesional, serta cakupan yang jauh lebih luas,” ujar SBY.

Untuk BPJS Ketenagakerjaan baru mulai beroperasi pada 1 Juli 2015. Sebelum tanggal tersebut, PT. Jamsostek tetap memberikan pelayanan kepada peserta lama, kecuali jaminan pemeliharaan kesehatan yang telah dipindahkan ke BPJS Kesehatan. BPJS Ketenagakerjaan sebagai pelaksana empat program jaminan sosial, yakni jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian.

Secara khusus, Presiden juga meminta Menko Kesra Agung Laksono beserta para menteri terkait dan jajaran pengelola BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan untuk menyukseskan pelaksanaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Pedomannya adalah Undang Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS Kesehatan.

“Pastikan pula proses transisi menuju BPJS Kesehatan berlangsung lancar dan tidak menghambat layanan kesehatan yang berkualitas bagi peserta Askes, Jamsostek, Asabri, Jamkesmas, dan Jamkesda. Perluas manfaat bagi para peserta agar mereka dapat menikmati fasilitas yang sama di seluruh rumah sakit tanpa terkecuali,” SBY menandaskan.

Hadir pula dalam acara peluncuran ini, antara lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Mendagri Gamawan Fauzi, Menkumham Amir Samsudin, Menakertrans Muhaimin Iskandar, dan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menkes Nafsiah Mboi, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Antisipasi Penyakit 2014

awasKementerian Kesehatan mengidentifikasi penyakit-penyakit apa saja di 2013 yang bakal mengancam di 2014. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof. Tjandra Yoga Aditama melalui surat elektronik kepada Pusat Komunikasi Publik menyebutkan sejumlah penyakit yang masih akan menjadi ancaman kesehatan masyarakat berdasarkan sumbernya, yaitu Penyakit Menular Langsung seperti diare, hepatitis (terutama hepatitis A, B, C), AIDS dan pneumonia. Penyakit bersumber binatang antar lain DBD, chikungunya, leptospirosis, flu burung, rabies, dan malaria. Penyakit tidak menular antara lain hipertensi, asma, PPOK, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker.

Prof. Tjandra Yoga juga menyebutkan kemungkinan jenis penyakit baru yang patut di waspadai di 2014.

Menurutnya, dari waktu ke waktu mungkin saja muncul virus / bakteri baru di dunia, baik yang benar-benar baru yang sebelumnya tidak ada, atau bakteri / virus yang tadinya sudah ada tapi lalu bermutasi menjadi bentuk baru.

“Memang tidak dapat diramalkan bakteri / virus baru apa yang akan muncul, serta tidak bisa juga diperkirakan secara pasti ttg mutasi mana yang akan timbul. Artinya, dunia kesehatan dari waktu ke waktu terus melakukan surveilans dan pengamatan”, terangnya.

Adapun bagaimana potensi penyebaran virus-virus berbahaya seperti H7N9 yang sempat menginfeksi TKI diHongkong beberapa waktu lalu serta virus corona dan ancaman virus-virus lainnya di 2014. Apakah berpotensi meluas atau masih dalam batas aman? Prof. Tjandra menyatakan, sejauh ini, kasus H7N9 pada manusia masih terbatas di daratan utama China. Beberapa kasus di luar daratan utama China seperti di Taiwan dan Hongkong punya riwayat perjalanan ke daratan utama China sebelumnya. Pengendalian penyakit pada sumbernya, yaitu unggas, berhasil menekan angka infeksi pada manusia. Secara umum kasus infeksi virus influenza (H7N9, H9N2, H1N1, dll) dipengaruhi musim. Pada musim dingin, kasus influenza cenderung meningkat.

Kasus MERS-CoV yang pertama kali dideteksi di Saudi Arabia pada September 2012, menyebar ke beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Jordan, UK, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Tunisia, dan Kuwait. Beberapa kasus yg terjadi di luar Saudi Arabia punya riwayat perjalanan ke Saudi Arabia sebelumnya, sebagian lainnya diketahui punya riwayat kontak dengan kasus (penularan terbatas antar manusia). Sangat sedikitnya kasus MERS-CoV yg terjadi sehubungan dengan musim haji (tercatat hanya 1 kasus konfirmasi pada jamaah haji dari sekitar 2 juta jamaah dari seluruh dunia) menjadi fakta yang menarik dan menunjukkan bahwa potensi penyebaran penyakit ini tidak sebesar yang diduga sebelumnya.

Untuk mengantisipasi ancaman penyakit-penyakit tersebut, ada 5 antisipasi yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu 1. Selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan memakan makan bergizi, berolahraga teratur, istirahat yang cukup, jangan merokok, sering cuci tangan pakai sabun (CTPS), dll; 2. Selalu menjaga kebersihan diri, makanan dan lingkungan; 3. Cek kesehatan secara berkala. Bila ada gangguan kesehatan yang mengganggu maka konsultasi pada petugas kesehatan; 4. selalu ikuti perkembangan masalah kesehatan dengan mengikuti penyuluhan kesehatan, media dan bertanya pada petugas kesehatan; serta 5. Upayakan hidup dengan seimbang, kelola stress, jalankan kaidah-kaidah agama. Hidup yang tenang secara kejiwaan akan amat berpengaruh bagi kesehatan fisik kita.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Selamat Hari Jadi Kabupaten Tabalong ke 48

hari jadi tabalongPada acara puncak Peringatan Hari Jadi Kabupaten Tabalong ke 48, di Lapangan Pendopo Tanjung, dilakukan penyerahan 5 buah ambulan kepada Puskesmas oleh Gubernur Kalimantan Selatan.

Kegiatan ini pada tanggal 2 Desember 2013, Puskesmas yang mendapatkan ambulan adalah Puskesmas Upau, Puskesmas Muara Uya, Puskesmas Murung Pudak, Puskesmas Kelua, dan Puskesmas Banua Lawas. Penyerahan mobil secara simbolis, diterima oleh masing-masing Kepala UPT Puskesmas, disaksikan oleh Bupati dan Wakl Bupati Tabalong beserta seluruh jajaran nya.

Stand Dinas Kesehatan dalam Tabalong Expo 2013

stand dinkesDinas Kesehatan Kabupaten Tabalong ikut memeriahkan kegiatan Tabalong Expo 2013 yang diadakan Depperindagkop, bertempat di samping gedung DPRD Tabalong.

Kegiatan Pameran Pembangunan Tabalong Expo diadakan dari tanggal 25 Nopember – 1 Desember 2013. Dinas Kesehatan mengadakan kuis untuk pengunjung dengan berbagai hadiah menarik, setiap hari. Stand Dinas Kesehatan untuk tahun 2013 menampilkan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional dan Sosialisasi ABAT (Aku Bangga Aku Tahu) tentang HIV AIDS bagi remaja. juga menampilkan berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Kesehatan Nasional ke 49.

Pada malam penutupan acara Tabalong Expo, untuk Stand Dinas Kesehatan mendapatkan penilaian sebagai Juara III Stand Terbaik.

Lomba Cerdas Cermat Gizi dalam rangka HKN ke 49

cerdasd cermat giziDalam rangka memeriahkan kegiatan Hari Kesehatan Nasional ke 49, Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong mengadakan kegiatan Lomba Cerdas Cermat Gizi dan kesehatan bagi Siswa-siswi SMP dan SMA se Kabupaten Tabalong pada tanggal 12 Nopember 2013. bertempat di Gedung Sarabakawa Tanjung.Untuk Tingkat SMP, Juara I SMP Hasbunallah, Juara II MTSN Tantaringin, Juara III SMP N 1 Tanta, Juara Harapan I SMP N Murung Pudak, Juara Harapan II MTS Ihya Ulumuddin, Juara Harapan III SMP N 6 Tanta.

Untuk Tingkat SMA, Juara I SMAN 1 Tanta, Juara II SMK 1 Murung Pudak, Juara III SMA 1 Muara Uya, Juara Harapan I SMA 1 Tanjung, Juara Harapan II SMK Muara Uya, Juara Harapan III MAN Haruai.

 

 

Lomba Senam Lansia bagi Petugas Puskesmas

senam lansia 221113

Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong mengadakan kegiatan Lomba Senam Lansia bagi petugas puskesmas dalam rangka memeriahkan kegiatan Hari Kesehatan Nasional ke 49, di ikuti oleh 16 puskesmas yang ada di wilayah Tabalong, pada tanggal 22 Nopember 2013. Di dukung oleh ASKES, kegiatan ini berlangsung meriah dan kegiatan ini dimulai dengan jalan santai bersama oleh semua peserta dan panitia.Untuk Lomba Senam lansia, Regu dari UPT Puskesmas Muara Uya menjadi Juara I.

Hadiah dan Piala diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan, dr. Syarifudin Basri,Sp.OG kepada Kepala UPT Puskesmas Muara Uya.

Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-49 Tahun 2013 Menuju Indonesia yang Sehat dan Jaminan Kesehatan Nasional yang Bermutu

Hari Kesehatan Nasional (HKN) diperingati pada 12 November setiap tahunnya. Tema utama HKN periode 2010-2014 adalah “Indonesia Cinta Sehat”. Khusus untuk HKN ke-49 tahun 2013, sub tema yang dipilih yaitu “Menuju Indonesia Sehat dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang Bermutu”, untuk memaknai dimulainya pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 1 Januari 2014.

“Melalui tema ini diharapkan semua pihak termasuk tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dapat berbenah serta mempersiapkan diri untuk memberikan pelayanan yang terbaik melalui kemudahan akses dan mutu layanan kepada masyarakat”, ujar Menkes.

Rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-49 tahun 2013, dimulai dengan dilakukannya kegiatan pengabdian masyarakat Operasi Katarak di Tasikmalaya (17 Oktober 2013); Indramayu (22 Oktober 2013); Lombok Timur (24-27 Oktober 2013); Kepulauan Riau (7 November 2013); dan RS Mata Cicendo Bandung (9 November 2013). Di samping itu, terdapat juga kegiatan donor darah secara serentak di berbagai Dinas Kesehatan di daerah.

Nuansa puncak peringatan HKN mulai terasa pada Jumat pagi (8/11), dengan dilakukannya ziarah dan tabur bunga di Pusara pada pahlawan pembangunan kesehatan. Kegiatan dilakukan di dua tempat dalam waktu yang bersamaan, yaitu Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, dan Bukit Pemakaman San Diego Hills Karawang.

Selasa (12/11) lalu, lebih kurang 2000 pegawai Kementerian Kesehatan RI bersama TNI dan POLRI melakukan upacara bersama untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Pada kesempatan tersebut dilakukan pula Geladi Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan. Simulasi tersebut menggambarkan  kemampuan, kesiapsiagaan, kerjasama, koordinasi, komunikasi yang sangat baik, serta komitmen seluruh jajaran kesehatan  dalam mengatasi  bencana dan kegawat-daruratan yang dihadapi masyarakat bersama semua pihak terkait. Meskipun Tanah Air kita terletak pada lokasi rawan bencana, ini tetap menjadi semangat bagi masyarakat agar terampil untuk hidup bersama di tengah risiko bencana dan berbagai kegawat-daruratan. Pada hari yang sama, Menkes RI juga melakukan teleconference dengan jajaran kesehatan dan Unit Transfusi Darah (UTD) dari 5 Provinsi, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Lampung, dan Papua. Menkes juga meresmikan Pameran Foto Kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan RI.

Rabu (13/11), dilaksanakan pembukaan kegiatan Konferensi Nasional Promosi Kesehatan (Konas Promkes) Ke- 6 tahun 2013 di Hotel Merlynn Park, Jakarta. Pertemuan yang dihadiri oleh 600 peserta ini merupakan ajang pertemuan para praktisi dan pemerhati promosi kesehatan di Indonesia  yang diselenggarakan 3 tahun sekali.

Tahun ini, puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-49 tahun 2013 diselenggarakan selama tiga hari (15-17 November 2013) di JIExpo Kemayoran Jakarta.

Pada hari pertama (15/11) penyelenggaraan peringatan HKN tahun ini, Menkes RI membuka Pameran Pembangunan Kesehatan berupa pameran kesehatan produk dalam negeri terbesar sepanjang sejarah perayaan HKN. Pameran ini melibatkan 185 peserta dari industri farmasi, alat kesehatan, makanan, kosmetik dan rumah sakit; yang menunjukkan keseriusan dan kesiapan komponen dalam negeri dalam mendukung pelaksanaan JKN tahun 2014. Pada kesempatan yang sama, Menkes RI berkesempatan untuk memberikan penghargaan Ksatria Bakti Husada, Manggala Karya Bakti Husada, Mitra Bakti Husada, Petugas Kesehatan Berprestasi dalam Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK), Kabupaten/Kota Sehat (simbolis), Pemenang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) antar Kementerian dan Lembaga.

Malam harinya, Menkes RI membuka kegiatan Rapat Koordinasi Pelaksanaan Operasional Program (Rakorpop) di Hotel Mercure Ancol Jakarta. Dalam acara tersebut, Menkes diagendakan untuk memberikan pernghargaan kepada Institusi Kesehatan Berprestasi, Tenaga Kesehatan Berprestasi, dan RS Vertikal dengan Pelayanan Keperawatan Prima.

Sabtu (16/11), akan diselenggarakan Senam Sehat Bugar di tempat kerja dan Senam Vitalisasi Otak serta Lomba Line Dance di Pelataran Hall B-C, JIExpo Kemayoran Jakarta. Pada hari kedua pelaksanaan puncak HKN ke-49 tahun 2013 tersebut juga diselenggarakan Final Lomba Hand Hygenie Dance, Lomba Band dan Gelar Musik Jazz di Panggung Utama JIExpo Kemayoran Jakarta; Lomba Menggambar (kategori usia 7-13 tahun) dan Pameran Pembangunan Kesehatan di Hall C JIExpo Kemayoran Jakarta. Selain itu, terdapat pula pelayanan KB, deteksi Dini Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Operasi Katarak.

Minggu (17/11), merupakan hari terakhir penyelenggaraan puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-49 tahun 2013. Pada kesempatan tersebut, Menkes RI akan melakukan Pencanangan Senam Sehat Bugar di Tempat Kerja dan melepas peserta Gerak Jalan Sehat dan Sepeda Sehat di Pelataran Hall B-C, JIExpo Kemayoran Jakarta. Selain itu, juga akan diselenggarakan Lomba Mewarnai untuk kategori usia 4–7 tahun, Family Gathering bagi Keluarga Besar Kementerian Kesehatan RI, serta Parade Tumpeng.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Penghargaan Bagi Petugas Kesehatan Berprestasi di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK)

2DSC_9594Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, memberikan Penghargaan kepada 3 orang Petugas Kesehatan Berprestasi di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) pada puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-49 tahun 2013 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Jumat (15/11) lalu.

Penghargaan petugas kesehatan Berprestasi di DBK, terbagi menjadi dua kategori, yaitu Kader Lestari dan Tenaga Kesehatan Berprestasi. Dua orang Kader lestari yaitu Nenek Elizabeth dari Kab. Mamuju Prov. Sulawesi Barat dan Bapak Kertamalip dari Kab. Lombok Utara Prov. Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara dr. Catrise Sheyang dari Puskesmas Long Bang, Kab. Bulungan Prov. Kalimantan Utara mendapatkan predikat sebagai Tenaga Kesehatan Berprestasi.

 

Nenek Elizabeth, 27 tahun Mengabdi sebagai Kader Kesehatan Masyarakat 

Berawal dari banyaknya anak-anak di dusun Rante Kamase yang tidak ditimbang sehingga tidak terpantau kesehatannya, Nenek Elizabeth (73 tahun) tergerak hatinya untuk mengabdikan lebih dari sepertiga hidupnya sebagai kader kesehatan masyarakat. Wanita yang lahir pada 30 Oktober 1940 tersebut bahkan menghibahkan tanah miliknya untuk dijadikan Posyandu. Ketulusan serta pengabdiannya diabadikan untuk kepentingan masyarakat dalam upaya kesehatan Ibu dan Anak.

 

Bapak Kertamalip, Kepala Desa yang mengabdi sebagai Kader Kesehatan Masyarakat

Seorang kepala desa dari Kabupaten Lombok Utara yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat dalam upaya kesehatan Ibu dan Anak serta pengembangan Desa Siaga. Selain sebagai kepala desa, Bapak Kertamalip juga dikenal sebagai Kader Kesehatan Masyarakat yang sangat mendukung gerakan Angka Kematian Ibu Nol (AKINO) dengan kegiatan-kegiatan inovatif, antara lain: 1) Promosi secara rutin dan interaktif di radio komunitas desa sebagai narasumber dan moderator; 2) Mengembangkan dan menggerakkan peran desa siaga di desanya; 3) Memberi sanksi kepada ibu hamil dan orang tua balita tidak hadir ke Posyandu; 4) Menunjuk warga sebagai sopir kendaraan roda tiga untuk ambulan desa untuk merujuk.

 

dr. Catrise Sheyang, dokter Teladan dari Pedalaman Kalimantan

Seorang dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) sejak tahun 2010, dr. Catrise Sheyang, melanjutkan pengabdiannya menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Puskesmas Long Bang, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Dokter muda yang lahir di Surabaya, 22 September 1984 tersebut mengaku tidak pernah terbersit dalam benaknya menghabiskan masa mudanya di daerah terpencil di pedalaman Pulau Kalimantan, tanpa fasilitas elektronik dan internet.

Desa Long Bang berada di hulu Sungai Kayan. Untuk sampai di desa tersebut harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Tanjung Selor, ibukota kabupaten Bulungan atau sekitar 4 jam dari Bandara Juwata, Tarakan. Perjalanan ke Long Bang hanya bisa ditempuh lewat jalur sungai dengan menggunakan perahu cepat (speedboat) dan ampir seluruh desa di kecamatan itu hanya bisa dilalui dengan perahu kecil atau ketinting milik masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Pemerintah Targetkan 80% Perempuan dapat Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Serviks

Menkes RI Membuka Program Training of Trainers (TOT) Gerakan Nasional Peduli dan Cegah Kanker Serviks (3Okt2013)Kanker Payudara dan Kanker Serviks merupakan kanker yang paling sering dijumpai pada perempuan dewasa ini. Akan tetapi deteksi dini kedua jenis kanker tersebut dapat dilakukan dengan teknologi tepat guna yang murah dan sederhana atau simple. Itulah sebabnya,  pengendalian kedua jenis kankertersebut merupakan salah satu program prioritas Pemerintah.

Demikian sambutan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH,pada acara pembukaan training of trainers deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks, di Lingkungan Kemenkes RI (3/10).

Menurut Menkes, dalam pengendalian kanker payudara dan kanker serviks,Pemerintah mentargetkan minimal 80% perempuan usia 30-50 tahun melakukan deteksi dini setiap 5 tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah perempuan Indonesia yang berusia 30-50 tahun adalah sekitar 35 juta (35.950.765 orang).

“Sampai dengan tahun 2012 jumlah perempuan yang telah diskrining lebih dari 550 ribu orang (575.503 orang) dengan jumlah IVA (+) lebih dari 25 ribu orang (25.805 orang) atau 4,5%), suspek kanker leher rahim 666 (1,2 per 1000) dan suspek tumor payudara 1.289 (2,2 per 1000). Cakupan deteksi dini ini masih perlu ditingkatkan dengan kerja keras, kerja cerdas, dan inovasi bersama seluruh lapisan masyarakat”, tambah Menkes.

Ditambahkan program nasional deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim ini dicanangkan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 April 2008, sekitar 5 tahun yang lalu bertepatan dengan peringatan Hari Kanker Sedunia 2008.

Sejak pencanangannya hingga tahun 2013, Pemerintah telah memperluas pelaksanaan deteksi dini kedua kanker tersebut ke 140 kabupaten di 31provinsi, yang dilaksanakan oleh  500 dari 9500 Puskesmas. Saat ini, telah ada 202 pelatih atau trainers yang terdiri dari dokter spesialis obstetriginekologi, dokter spesialis bedah onkologi, dokter spesialis bedah, dandiperkuat oleh 1.192 providers atau pelaksana program terdiri dari dokter umum dan bidan.

Ketidaktahuan masyarakat khususnya kaum perempuan Indonesia pada bahaya kanker payudara dan kanker serviks perlu disikapi dengan peningkatan upaya promotif-preventif. Antara lain dengan melaksanakansosialisasi, advokasi, dan edukasi di berbagai elemen masyarakat. Edukasi akan lebih efektif jika dilakukan lebih awal, antara lain pada siswa sekolah melalui guru-guru mereka dibantu oleh para ahli. Menkes berharap agar YKI, SIKIB, Pertamina, dan POGI beserta berbagai organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, dan BUMN dapat mendukung pelaksanaan upaya  ini.

“Dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat program ini diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kedua kanker tersebut” tutur Menkes.

Data pemanfaatan Jamkesmas 2011 menunjukkan bahwa biaya rawat jalanpenderita kanker adalah sebesar 8% dari total pembiayaan Jamkesmas, yaituRp.154,4 milyar. Upaya promotif- preventif dapat menekan terjadinya Kanker Payudara dan Kanker sehingga dapat menekan pembiayaan Jamkesmas.

Dengan deteksi dini menggunakan metode Clinical Breast Examination atauCBE untuk kanker payudara dan metode IVA dan papsmear untuk kanker serviks akan mempercepat penanganan kedua jenis kanker ini, sehingga prognosisnya akan lebih baik dan biaya pelayanan pengobatan juga dapat ditekan. Oleh karena itu, capaian cakupan deteksi dini dan akses masyarakat pada pelayanan deteksi dini ini perlu ditingkatkan dengan sungguh-sungguh dari waktu ke waktu.

Pada kesempatan tersebut, Menkes juga menyampaikan apresiasinyakepada Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Pertamina, dan Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) yang bersama-sama Kementerian Kesehatan menyelenggarakanTraining of Trainers ini sebagai bagian dari Gerakan Nasional Peduli dan Cegah Kanker Serviks (GNPCKS).

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Menkes: Angka Kematian Ibu di Indonesia, Mari Turunkan Segera

Peluncuran Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu 2013

Jika ingin panjang usia, atur makanan kendalikan selera
Angka Kematian ibu di Indonesia, mari kita turunkan segera

Demikian penggalan pantun yang diucapkan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat meluncurkan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu (RAN PPAKI) tahun 2013-2015, di Kantor Kementerian Kesehatan RI di Jakarta, Kamis pagi (26/9). Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan peluncuran Rencana Aksi Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (RAN PPIA) tahun tahun 2013-2017, dan Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan,

“Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu, sudah semakin membaik”, ujar Menkes.

Mengutip hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), menunjukkan bahwa: 1. Persentase ibu hamil yang memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan meningkat dari 92% (2002) menjadi 96% (2012); 2. Persentase ibu yang bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan meningkat dari 66% (2002) menjadi 83% (2012); dan 3. Persentase ibu yang bersalin di fasilitas kesehatan meningkat dari 40% (2002) menjadi 63% (2012).

Pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, dengan: (1) mengusahakan tenaga kesehatan dalam jumlah yang memadai dengan kualitas yang sebaik-baiknya terutama bidan; (2) menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang terbaik sesuai dengan standar terutama penyediaan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) selama 24 jam dalam 7 hari yang dikenal dengan sebutan PONED 24/7 dan PONEK 24/7; dan (3) memobilisasi seluruh lapisan masyarakat, utamanya untuk pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dengan Pencegahan Komplikasi (P4K). Untuk tahap pertama implementasi, telah ditetapkan 9 provinsi dengan penduduk terbanyak yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, yang akan diikuti oleh provinsi lainnya.

“Saya meminta segenap jajaran pemerintah baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota bersama seluruh lapisan masyarakat di Tanah Air untuk bekerja keras, bekerja cerdas, dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu 2013-2015, agar angka kematian ibu dapat segera kita turunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015”, tandas Menkes.
Dalam rangka memfokuskan percepatan pencapaian target MDG 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu, dibutuhkan upaya-upaya yang efektif dan efisien serta konsisten dari seluruh pemangku kepentingan untuk ikut bersama-sama berupaya dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI). Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI menyusun Rencana Aksi Percepatan Penurunan AKI tahun 2013-2015, dengan tujuan: Menjabarkan visi, misi, dan program Presiden yang berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025; Menjadi panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan bidang kesehatan ibu dan neonatal di tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan kota; dan Memfokuskan pada peningkatan sistem pelayanan kesehatan untuk menjamin tersedianya akses terhadap pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir yang berkualitas.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.